Selasa, 19 Julai 2011

GUBENUR NTB MENGAKU BANGGA JADI ALUMNI PONPES

  Lombok Timur, NTB 19/7(ANTARA)- Gubenur Nusa Tenggara Barat TGH M. Zaiul Majdi mengaku bangsa menjadi alumni pondok pesantren, karena pendidikan di lingkungan pesantren tidak kalah dengan pendidikan umum, apalagi sekarang ini telah didukung dengan sarana dan prasana cukup memadai.

          "Saya menjadi seorang Gubenur sekarang ini tidak terlepas dari hasil didikan di lingkungan pondok pesantren (ponpes). Selama ini  Ponpes sudah banyak melahirkan tokoh pemimpin bangsa ini," katanya di Selong, Selasa.  
    Zaiunul mengaku sejak tahun 1985 hingga 1991 belajar dan menimba ilmu di lingkungan Ponpes Darunnahdatain Nahdlatul Watahan (NW) Pancor.

         Ia mengatakan, lingkungan Ponpes sebagai tempat menimba dan menggali berbagai ilmu pengetahuan agama yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan agama Islam melalui kegiatan spritual  yang bertujuan untuk kamajuan bangsa dan negara ini.

         Oleh karena itu, katanya, keberadaan ponpes tidak akan bisa dicabut dari  hittahnya, sebagai tempat untuk mencetak para santri yang akan dipersiapkan menjadi seorang kader penerus pemimpin bangsa ini dimasa yang ada datang.

         Zainul mengatakan, untuk menciptakan kader pemimpim bangsa yang berkualitas terlebih dahulu seorang santri harus diasah sikap, watak, prilaku dan budi pekertinya agar menjadi baik serta berakhlak mulia, sehingga ketika  menjadi pemimpin bisa membedakan mana yang baik.

         "Salah besar kalau ada yang masih beranggapan bahwa lulusan ponpes tidak bisa menjadi seorang pemimpin, justru sebaliknya. Saya mengharapkan kedepan  dari lulusan ponpes akan tumbuh calon pemimpin yang baik," ujarnya.

        Dia mengharapkan pimpinan ponpes yang ada di NTB untuk  menjalankan program pesantren sesuai dengan aturan yang ada dan dengan tidak menjadikan lingkungan ponpes sebagai tempat untuk melakukan tindakan-tindakan yang kurang terpuji dan bertentangan dengan hukum.

         "Seperti yang terjadi di salah satu kabupaten di NTB ini,  mengatasnamakan ponpes sebagai tempat untuk melakukan berbagai tindakan yang diluar jalur. Ponpes dijadikan tempat untuk menyusun sebuah tindakan yang sangat membahayakan bagi orang lain," kata Zainul.

         Menurut dia, perbuatan yang demikian itu, harus dihilangkan jauh-jauh oleh semua pengurus ponpes yang ada di NTB, dengan mengembalikan posisi ponpes kepada hittahnya, sebagai tempat belajar  berbagai ilmu agama.

         "Kalau dilihat dari prospek kedepan, keberadaan ponpes di NTB cukup menjanjikan, karena itu harus dipertahankan dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat kalau  ponpes itu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah terorisme," kata Zainul. (*)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

 
Powered by Blogger