Selasa, 19 Julai 2011

Musabaqah Fahmil Qutubi Turats (Mufakat) ke IV Tingkat Nasional

Dalam upaya meningkatkan kembali perhatian dan kecintaan para santri untuk terus mempelajari kitab-kitab kuning (kutub at-turats) sebagai sumber utama kajian ilmu-ilmu agama islam, maka perlu diselenggarakan perlombaan membaca, menterjemahkan dan memahami kitab-kitab kuning (kutub at turats) bagi para santri pondok pesantren, melalui kegiatan Musabaqah Fahmi Kutubit Turats (Mufakat) antar pondok pesantren. Tentu saja, musabaqah ini bukan hanya semata-mata memperlombakan teknik-teknik membaca sebuah kitab kuning, tetapi juga kemampuan dalam memahami serta menyampaikan kandungan teks kitab kuning yang dibacakan kepada publik. Dengan demikian, forum ini merupakan ajang perlombaan kemampuan dalam membaca, memahami, serta mengungkapkan kandungan kitab kuning secara komprehansif.
Rangkaian Pokok-Pokok Acara Mufakat Nasional IV Tahun 2011 :
  1. HaLaqah Pimpinan Pondok Pesantren
    Senin, 18 Juli 2011 PUkul 14.00 - 22.00 wita bertempat di Hotel Jayakarta
    Tema : Pesantren dan Penguatan Pemahaman Keislaman Rahmatan Lil Alamin.
    Narasumber :
    - Menteri Agama RI
    - Prof. Dr. KH M. Tolchah Hasan
    - Prof. Dr. H. Muhammad Ali
    - H. Chairul Fuad Yusuf
    - Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj
    - Dr. TGKH M. Zainul Majdi, MA.
    - Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA.
    - Dr. H. Affandi, MA
    - Dr. KH. Nur Iskandar, SQ.
  2. Upacara Pembukaan Mufakat Nasional IV Tahun 2011
    Selasa, 19 Juli 2011 Pukul 07.00-12.10 wita bertempat di Arena Utama Mufakat
    Dibuka oleh Menteri Agama RI
  3. Pembukaan Pameran dan Bazar
    Selasa, 19 Juli 2011 PUkul 12.00 wita - selesai bertempat di Arena Pameran PP. DN NW Pancor
    Dibuka oleh Hj. Rabiattul Adawiyah, SE.
  4. Pelaksanaan Mufakat Nasional IV Tahun 2011
    Rabu - Sabtu, 20 - 23 Juli 2011 PUkul 08.00 - 17.00 wita bertempat di Komplek PP Darunnahdlatain NW Pancor
  5. Diskusi / Jumpa Penulis Buku Metodologi Kitab Kuning
    Rabu - Jum'at, 19 - 21 JUli 2011 Pukul 19.30 - 22.00 wita bertempat di Hall Birrul Walidain
    Tema : Kitab Kuning dan Tantangan Modernitas
    Narasumber :
    - Prof. Dr. KH. Ahsin Sakho MUhammad
    - KH. Maulana Kamal Yusuf
    - KH. Drs. Habib Abdus Syakur
    - KH. Mashoeri Naim, MA.
    - Prof. Dr. H. Hidayat, MA.
    - KH. Saefuddin Amsir, MA.
    - Prof. Dr. KH. Said Agiel Husin Al-Munawwar
    - Dr. H. Mukhlis Hanafi.
  6. Pegelaran Seni Islami
    Kamis, 21 Juli 2011 Pukul 13.30 - 21.30 wita bertempat di Panggung Arena Utama
    Peserta : Band WALI, Kafilah Mufakat, Utusan Pondok Pesantren NTB, Umum
  7. Sarasehan dan Musyawarah Mufakat Nasional
    Kamis, 21 Juli 2011 Pukul 13.00 - 21.30 wita bertempat di Hall Birrul Walidain
    Tema : Kontekstual KItab Kuning dalam Pemecahan Problem Keummatan Dewasa ini
    Narasumber :
    - Prof. Dr. KH M. Tolchah Hasan
    - Tarmizi Taher
    - Prof. Dr. H. D. Hidayat
    - Prof. Dr. H. Muhammad Ali, MA.
  8. Upacara Penutupan Mufakat NAsional IV Tahun 2011
    Sabtu, 23 Juli 2011 Pukul 19.00 - 23.00 wita bertempat di Arena Utama Mufakat
    Ditutup : Gurbenur NTB / Dirjen Pendidikan Islam

GUBENUR NTB MENGAKU BANGGA JADI ALUMNI PONPES

  Lombok Timur, NTB 19/7(ANTARA)- Gubenur Nusa Tenggara Barat TGH M. Zaiul Majdi mengaku bangsa menjadi alumni pondok pesantren, karena pendidikan di lingkungan pesantren tidak kalah dengan pendidikan umum, apalagi sekarang ini telah didukung dengan sarana dan prasana cukup memadai.

          "Saya menjadi seorang Gubenur sekarang ini tidak terlepas dari hasil didikan di lingkungan pondok pesantren (ponpes). Selama ini  Ponpes sudah banyak melahirkan tokoh pemimpin bangsa ini," katanya di Selong, Selasa.  
    Zaiunul mengaku sejak tahun 1985 hingga 1991 belajar dan menimba ilmu di lingkungan Ponpes Darunnahdatain Nahdlatul Watahan (NW) Pancor.

         Ia mengatakan, lingkungan Ponpes sebagai tempat menimba dan menggali berbagai ilmu pengetahuan agama yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan agama Islam melalui kegiatan spritual  yang bertujuan untuk kamajuan bangsa dan negara ini.

         Oleh karena itu, katanya, keberadaan ponpes tidak akan bisa dicabut dari  hittahnya, sebagai tempat untuk mencetak para santri yang akan dipersiapkan menjadi seorang kader penerus pemimpin bangsa ini dimasa yang ada datang.

         Zainul mengatakan, untuk menciptakan kader pemimpim bangsa yang berkualitas terlebih dahulu seorang santri harus diasah sikap, watak, prilaku dan budi pekertinya agar menjadi baik serta berakhlak mulia, sehingga ketika  menjadi pemimpin bisa membedakan mana yang baik.

         "Salah besar kalau ada yang masih beranggapan bahwa lulusan ponpes tidak bisa menjadi seorang pemimpin, justru sebaliknya. Saya mengharapkan kedepan  dari lulusan ponpes akan tumbuh calon pemimpin yang baik," ujarnya.

        Dia mengharapkan pimpinan ponpes yang ada di NTB untuk  menjalankan program pesantren sesuai dengan aturan yang ada dan dengan tidak menjadikan lingkungan ponpes sebagai tempat untuk melakukan tindakan-tindakan yang kurang terpuji dan bertentangan dengan hukum.

         "Seperti yang terjadi di salah satu kabupaten di NTB ini,  mengatasnamakan ponpes sebagai tempat untuk melakukan berbagai tindakan yang diluar jalur. Ponpes dijadikan tempat untuk menyusun sebuah tindakan yang sangat membahayakan bagi orang lain," kata Zainul.

         Menurut dia, perbuatan yang demikian itu, harus dihilangkan jauh-jauh oleh semua pengurus ponpes yang ada di NTB, dengan mengembalikan posisi ponpes kepada hittahnya, sebagai tempat belajar  berbagai ilmu agama.

         "Kalau dilihat dari prospek kedepan, keberadaan ponpes di NTB cukup menjanjikan, karena itu harus dipertahankan dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat kalau  ponpes itu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah terorisme," kata Zainul. (*)

Jumaat, 15 Julai 2011

lomba membaca dan memahami isi "kitab kuning" tingkat nasional

Mataram, 15/7 (ANTARA) - Sebanyak 1.400 santri dari seluruh Indonesia akan mengikuti "Musabaqah Fahmi Kutubit Turats" (Mufakat) atau lomba membaca dan memahami isi "kitab kuning" tingkat nasional IV di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat 19-24 Juli 2011.

         Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) NTB H Lalu Suhaimi Ismy di Mataram, Jumat mengatakan, hingga kini jumlah peserta yang akan mengikuti Mufakat di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Pancor itu sebanyak 1.620 orang, termasuk pendamping.

         Ia mengatakan, para santri yang berasal dari ponpes di 33 provinsi di seluruh Indonesia itu akan ditampung di Pondok Pesantren (Ponpes) Nahdlatul Wathan (NW) Pancor, Lombok Timur.

         "Sebelumnya pada lomba pertama hingga ketiga kami menggunakan istilah  Musabaqah Qiraatil Kutub, karena merupakan lomba membaca kitab kuning. Pada lomba yang keempat ini diperkenalkan istilah Musabaqah Fakmi Kutubit Turats, karena selain membaca juga memahami isi dari kitab kuning," ujarnya.

         Jadi, kata Suhaimi, pada lomba sekarang ini tidak hanya membaca kitab kuning, tetapi juga memahami kandungan atau isinya. Dengan memahami isi kitab tersebut diharapkan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

         Menurut dia, Mufakat IV 2011 yang berlangsung selama sepekan itu akan diisi dengan berbagai mata lomba, yakni untuk tingkat 'Ula' (awaliyah) atau dasar dengan peserta santri tingkat Madrasah Ibtidaiyah adalah lomba membaca dan memahai kitab fiqh, sirah (sejarah), aqidah/ahlak dan kitab nahwu sharaf.

         Sementara untuk 'Wustha' dengan peserta santri tingkat Madrasah Tsanawiyah yang dilombakan adalah membaca dan memahami kitab Fiqh, airah, aqidah/akhlak, nahwu sharaf, hadits, tafsir dan balaghah, sedangkan untuk Ulya dengan peserta santri Madrasah Aliyah sama dengan Wustha.

         "Kegiatan 'Mufakat' juga diisi dengan lomba debat menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris," katanya.

         Menurut rencana 'Mufakat' akan dibuka Menteri Agama Suryadharma Ali dan sejumlah gubernur serta sejumlah pejabat dari Kementerian Agama dan Duta Besar (Dubes) negara sabahat, antara lain Malaysia Brunei Darussalam, Saudi Arabia dan negara timur tengah lainnya serta Dubes Amerika Serikat dan Australia.

         Para peserta yang merah predikat terbaik akan mendapat hadiah menarik, antara lain umroh ke Tanah Suci Mekah dan seluruh peserta juga akan diberikan uang pembinaan. (*)

Ahad, 15 Mei 2011

tokoh ulama terkemuka di (LOMBOK)

KM. Krens. Lotim. Nama lengkap ulama besar yang berasal dari Lombok Timur ini ialah Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin bin Haji Abdul Madjid. Ketika kecil, ahli keluarganya memanggil beliau Muhammad Saggaf. Asal-muasal penggunaan nama ini bermula setelah ayahandanya didatangi oleh waliyullah yang berasal dari Hadhramaut dan Maghribi tiga hari sebelum beliau dilahirkan. Kedua waliyullah itu secara kebetulan mempunyai nama yang sama iaitu “Saqqaf” dan berpesan kepada Tuan Guru Haji Abdul Madjid supaya anaknya yang akan lahir itu diberi nama “Saqqaf” yang bermaksud “tukang memperbaiki atap”. Kata “Saqqaf” kemudiannya di Indonesia-kan menjadi “Saggaf” dan untuk dialek bahasa Sasak menjadi “Segep”. Itulah sebabnya beliau sering dipanggil dengan “Gep” oleh bondanya. Setelah menunaikan ibadah haji, nama yang digunakan semasa kecil diganti dengan Haji Muhammad Zainuddin. Nama ini diberi oleh ayahanda beliau sendiri yang diambil bersempena nama seorang ulama besar dari Tanah Melayu yang mengajar di Masjidil Haram. Ulama besar yang dimaksudkan ialah Syeikh Muhammad Zainuddin yang berasal dari Sarawak. Tuan Guru Kiyai Haji Abdul Madjid dilahirkan di Kampung Bermi, Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada 17 Rabiul Awwal 1316 Hijriah bersamaan dengan dengan 5 Ogos 1898 Masehi hasil dari perkahwinan Tuan Guru Haji Abdul Madjid yang lebih terkenal dengan panggilan Guru Mukminah atau Guru Minah dengan seorang wanita solehah bernama Hajjah Halimah al-Sa’diyah.[1] Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin berpulang ke rahmatullah pada hari Selasa, 21 Oktober 1997 M bersamaan 20 Jumadil Akhir 1418 H di kediamannya di desa Pancor, Lombok Timur.
Diriwayatkan Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin berketurunan kesultanan Selaparang, sebuah kerajaan Islam yang pernah berkuasa di Pulau Lombok. Disebutkan bahwa Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan keturunan Kerajaan Selaparang yang ke-17.[2] Dalam keluarganya, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin adalah anak bongsu dari enam bersaudara. Saudara kandung beliau ada lima orang iaitu Siti Syarbini, Siti Cilah, Hajjah Saudah, Haji Muhammad Sabur dan Hajjah Masyitah.
Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin mendapat pendidikan awal dari ayahandanya sendiri. Beliau mula mengaji al-Quran dan ilmu-ilmu agama yang lain yang dididik oleh ayahandanya sejak usianya 5 tahun. Setelah berusia 9 tahun, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin memasuki pendidikan formal yang disebut sebagai Sekolah Rakyat Negara. Setelah menamatkan pendidikan formalnya, beliau kemudiannya menuntut ilmu agama ulama besar tempat seperti Tuan Guru Haji Syarafudin dan Tuan Guru Haji Muhammad Sa’id dari Pancor serta Tuan Guru Abdullah bin Amaq Dulaji dari Desa Kelayu, Lombok Timur. Dengan ketiga-tiga guru ini, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin menimba ilmu dalam sistem halaqah. Beliau berangkat ke Makkah ketika usianya mencecah 15 tahun untuk mendalami ilmu agama. Pada peringkat awal, beliau belajar di lingkaran halaqah di Masjidil Haram. Antara gurunya disitu ialah Syeikh Marzuki, seorang berketurunan Arab kelahiran Palembang yang sudah lama mengajar mengaji di Masjid Haram. Gurunya itu berusia sekitar 50 tahun ketika Tuan Guru Muhammad Zainuddin mula menimba ilmu dengannya. Beliau juga belajar ilmu sastera kepada ahli syair terkenal Makkah iaitu Syeikh Muhammad Amin al-Kutbi dan Sayyid Muhsin Al-Palembani, seorang berketurunan Arab kelahiran Palembang yang kemudiannya menjadi guru beliau di Madrasah al-Shaulatiyah.
 
Selepas berlakunya Perang Wahhabi, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin memasuki Madrasah al-Shaulatiyah yang pada masa itu dipimpin oleh Syeikh Salim Rahmatullah. Pada hari pertama beliau masuk ke madrasah itulah beliau telah bertemu Syeikh Hasan Muhammad al-Masysyath, guru utama beliau yang banyak mencorak keperibadian beliau. Dari gurunya inilah beliau mendapat risalah/ijazah dengan seluruh isi kitabnya yang bertajuk “al-Irsyad bi al-Dzikr ba’da Ma’alim al-Ijazah wa al-Asnaf”. Untuk menentukan tahap kelayakan beliau belajar disitu, beliau telah diuji oleh Syeikh Salim Rahmatullah sendiri dan Syeikh Hasan Muhammad al-Masysyath. Keputusan beliau amat memuaskan dan boleh masuk terus ke kelas tahap 3 tetapi Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin mahu memasuki kelas tahap 2 terlebih dahulu dengan alasan mahu mendalami ilmu Nahwu dan Sharaf. Prestasi akademiknya sangat luar biasa dan beliau berjaya menyelesaikan pengajiannya dalam tempoh 6 tahun sahaja, 3 tahun lebih cepat dari tempoh lazimnya. Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyelesaikan pengajian di Madrasah al-Shaulatiyah pada 22 Dzulhijjah 1353 H dengan keputusan mumtaz. Sebagai penghargan atas prestasinya Mudir Madrasah Al-Shaulatiyah sendiri iaitu Syeikh Salim Rahmatullah telah mengundang ahli kaligrafi terbaik di Makkah untuk menulis ijazah Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin, bahkan beliau mengatakan bahawa, “Madrasah Al-Shaulatiyah tidak perlu memiliki murid yang banyak, cukup satu orang saja asalkan memiliki prestasi dan berkualiti seperti Zainuddin”. Selepas menyelesaikan pengajiannya, beliau tidak terus pulang ke tanah asal tetapi mendah kitab fiqh dengan Syeikh Abdul Hamid Abdullah al-Yamani. Diperkirakan beliau berada di Makkah sekitar 13 tahun untuk menimba ilmu disana.
Sebenarnya, guru-guru Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin sangat ramai. Antara ulama besar yang pernah menjadi gurunya ialah seperti
Guru-guru yang mengajarkan al-Qur’an dan Kitab Melayu:1. Tuan Guru Haji Abdul Majid (ayahandanya sendiri)
2. Tuan Guru Haji Syarafuddin Pancor Lombok Timur
Tuan Guru Haji Muhammad Sa’id Pancor Lombok Timur
3. Tuan Guan Haji Abdullah bin Amaq Dujali Kelayu Lombok Timur
4. Al ‘Alim al-‘Allamah al-Syeikh al-Kabir al-Arifubillah Maulana Syeikh Hasan Muhammad al- al-Masysyath
5. Al ‘Alim al-‘Allamah al-Faqih Maulana al-Syeikh Umar Bajunaid al- Syafi’i
6. Al ‘Alim al-‘Allamah al-Faqih Maulana Syeikh Muhammad Syaid al-Yamani al-Syafi’i
7. Al ‘Alim al-‘Allamah al-Mutaffanin Sibawaihi Zanamihi Maulana Syeikh Ali al-Maliki
8. Maulana Syeikh Abu Bakar al-Palimbani
9. Maulana Syeikh Hasan Jambi al-Syafi’i
10. Al ‘Alim al-‘Allamah al-Muffasir Maulana al-Syeikh Abdul Qadir al-Mandili al-Syafi’i
11. Al ‘Alim al-‘Allamah al-Shufi Maulana Syeikh Muhtar Betawi al-Syafi’i
12. Al ‘Alim al-‘Allamah al-Muhaddith Maulana Syeikh Umar Hamdan al Mihrasi al-Maliki
13. Al ‘Alim al- ‘Allamah al-Muhaddith Maulana Syeikh Abdul Qadir al-Syibli al-Hanafi
14. Al ‘Alim al-‘Allamah al-Adib al-Shufi Maulana Syeikh al-Syayid Muhammad Amin al-Kuthbi al-Hanafi
15. Al ‘Alim al-‘Allamah Maulana Syeikh Muhsin al-Musahwa al-Syafi’i
16. Al ‘Alim al-‘Allamah al-Falaqi Maulana Syeikh Khalifah al-Maliki
17. Al ‘Alim al-‘Allamah Maulana Syeikh Jamal al-Maliki
18. Maulana Syeikh al-Shahih Muhammad Shalih Mukhtar al-Makhdum al-Hanafi
19. Al-‘Alim al-‘Allamah al-Syafi’i Maulana Syeikh Mukhtar al-Makhdum Al Hanafi
20. Maulana Syeikh al-Syayid Ahmad Dahlan al-Syafi’i
21. Maulana Syeikh Salim Cianjur al-Syafi’i
22. Al-‘Alim al-‘Allamah al-Muarrikh Maulana Syeikh Salim Rahmatullah al-Maliki
23. Maulana Syeaikh Abdul Gani al-Maliki
24. Maulana Syeikh al-Syayid Muhammad Arabi al-Tubani al-Jasairi al-Maliki
25. Maulana Syeikh al-Faruq al-Maliki
26. Maulana Syeikh al-Wa’id al-Syeikh Abdullah al-Farisi
27. Maulana Syeikh Mala Musa
Guru Ilmu Tajwid, al-Qur’an dan Qiraat Sab’ah:
1. Al-Syeikh Jamal Mirdad (Imam di makam Imam Hanafi di Masjidil Haram)
2. Al-Syeikh Umar Arba’in (Ahli Qur’an dan Qasidah yang sangat terkenal)
3. Al-Syeikh Abdul Latif Qari (Guru Besar di Qiraat Sab’ah di Madrasah Al-Shaulatiyah)
4. Al-Syeikh Muhammad Uba’id (Guru Besar dalam bidang Tajwid dan Qiraat yang sangat terkenal di Makkah).
Ilmu Fiqh, Tasawuf, Tajwid, Usulul Fiqh dan Tafsir:
1. Al-‘Alamah ‘al-Syeikh Umar Bajunaid al-Syafi’i
2. Al-‘Alimul al-Alamah al-Syeikh Muhammad Said al-Yamani
3. Al-‘Alamah al-Syeikh Muhtar Betawi
4. Al-‘Alamah al-Syeikh Abdul Qadir al-Mandili (Murid Khusus dari al- ‘Allamah Syeikh Ahmad Hamud Minangkabau Sumatera Barat)
5. Al-‘Alamah al-Faqih Abdul Hamid Abdur Rabb al-Yamani
6. Al-‘Mutaffanin al-‘Allamah al-Syayid Muhsin al-Musawa (Pendiri Darul Ulum al-Diniyah Makkah Mukarramah)
7. Al-‘Allamah al-Adib al-Syeikh Abdullah al-Lajahi al-Farisi (Pengarang Yang Sangat Terkenal)
Guru Ilmu Arud (Syair Bahasa Arab):1. Al-‘Alim al-‘Allamah al-Syeikh Abdul Qani al-Qadli
2. Al-‘Alim al-‘Allamah al-Adib al-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi
Guru Ilmu Falak:1. Maulana Syeikh Cianjur (Jawa Barat)
2. Al-‘Alim al-‘Allamah al-Falaki Maulana Syaikh Khalifah al-Makki
3. Al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Dahlan Sadakah al-Syafi’i
Guru Ilmu Hadith, Mustalahul Hadith, Mustahul Tafsir, Ilmu Fara’id, Sirah (Tarikh) dan pelbagai Ilmu Alat (Nahu-Syaraf):1. Al-‘Allamah al-Qabir Sibawaihi Zamanihi al-Syeikh al-Maliki
2. Al-‘Allamah al-Jalil Assyeikh Jamal al-Maliki
3. Al-‘Alim al-‘Allamah al-Kabir al-Muhaddith Maulana Syeikh Umar Hamdan al-Mihrazi al-Syafi’i
4. Al ‘Alimul ‘Allamah al-Kabir al-Muhaddith Maulana Syeikh Abdullah al-Buhari al-Syafi’i (Mufti Istanbul)
5. Maulana Wamurabbi Abil Barokah al-‘Alim al-‘Allamah al-Ushuli al-Muhaddith al-Shufi al-‘Arifubillah Maulana Syeikh Hasan Muhammad al-Masysyath al-Maliki
6. Al-‘Alim al-‘Allamah al-Shorfi Maulana Syeikh Muftar Makdum al-Hanafi
7. Al-‘Alim al-‘Allamah Maulana Syeikh al-Sayyid Muhsin al-Musawa
8. Al-‘Alim al-‘Allamah al-Adib al-Shufi Maulana Syeikh al-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi al-Hanafi
9. Al-‘Alim al-‘Allamah al-Syeikh Umar al-Faruk al-Maliki
10. Al-‘Alim al-‘Allamah al-Kabir al-Syeikh Abdul Qadir al-Syalabi al-Hanafi
Guru Ilmu Awrad (Ahzab):1. Al-‘Alim al-‘Allamah (Kiyai Falaj) (Bogor Jawa Barat)
2. Maulana Syeikh Malla Musa al-Maqribi
Guru Khat (Kaligrafi):
1. Al-Khattah al-Syeikh Abdul Aziz Langkat
2. Al-Khattah al-Syeikh Daud al-Rumani al-Fathani
3. Al-Khattah al-Syeikh Muhammad al-Ra’is al-Maliki
Diriwayatkan bahawa Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin kembali ke kampung halamannya setelah mendapat arahan dari gurunya yang paling beliau hormati iaitu Syeikh Hasan Muhammad al-Masysyath, pada tahun 1934. Sebaik tiba di Pulau Lombok beliau langsung mendirikan sebuah pondok atau pesantren yang dikenali dengan nama Pesantren al-Mujahidin. Pada tahun 1356 H bersamaan 1937 M. beliau mendirikan sebuah lagi pusat pengajian yang dikenali dengan nama Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Madrasah ini khusus untuk mendidik pelajar lelaki. Pada tahun 1362 H bersamaan dengan 1943 M, beliau mendirikan pula Madrasah Nahdlatul Banat Diniah Islamiyah (NBDI) khusus untuk membimbing pelajar wanita. Kedua-dua madrasah ini dianggap sebagai madrasah pertama di Pulau Lombok yang berkembang dengan pesatnya dan bernaung di bawah satu bumbung yang disebut sebagai Nahdlatul Wathan. Kedua-dua madrasah ini lalu dikenali masyarakat dengan panggilan pondok pesantren ‘Dar al-Nahdlatain Nahdlatul Wathan’. Ringkasnya sumbangan Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin dalam mengembangkan bidang pendidikan sangat banyak antaranya ialah seperti,
1. mendirikan Akademi Paedagogik NW pada tahun 1964
2. mendirikan Ma’had Dar al-Qu’an wa al-Hadith al-Majidiyah Asy-Syafi’iyah Nahdlatul Wathan pada tahun 1965
3. mendirikan Ma’had li al-Banat pada tahun 1974
4. mendirikan Universitas Hamzanwadi dan menjadi rektor universiti pada tahun 1977
5. mendirikan Fakultas Tarbiyah Universitas Hamzanwadi pada tahun 1977
6. mendirikan STKIP Hamzanwadi pada tahun 1978
7. mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Hamzanwadi pada tahun 1978
8. mendirikan Yayasan Pendidikan Hamzanwadi pada tahun 1982
9. mendirikan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram pada tahun 1987
10. mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Hamzanwadi pada tahun 1987
11. mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Hamzanwadi pada tahun 1990
12. mendirikan Madrasah Aliyah Keagamaan putera-puteri pada tahun 1994
13. mendirikan Institut Agama Islam Hamzanwadi pada tahun 1996
Sementara sumbangan beliau dalam bidang dakwah adalah seperti berikut,
1. menjadi Amirul Haji dari Negara Indonesia Timur pada tahun 1947/48
2. menjadi anggota Delegasi Negara Indonesia Timur ke Arab Saudi pada tahun 1948/49
3. menjadi Konsulat NU Sunda Kecil pada tahun 1950
4. menjadi Ketua Badan Penasihat Masyumi Daerah Lombok pada tahun 1952
5. mendirikan Organisasi Nahdlatul Wathan pada tahun 1953
6. menjadi Ketua Umum PBNW Pertama pada tahun 1953
7. menjadi anggota Konstituante RI hasil Pemilu I pada tahun 1955
8. menjadi peserta KIAA (Konferensi Islam Asia Afrika) di Bandung pada tahun 1964
9. menjadi penasihat Majlis Ulama’ Indonesia (MUI) Pusat pada tahun 1971-82
10. menjadi Ketua Penasihat Bidang Syara’ Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram (dari tahun 1975 hingga 1997)
Hasil tulisannyaTuan Guru Haji Muhammad Zainuddin banyak mengarang kitab samada dalam bahasa Arab, Indonesia dan Sasak. Antaranya ialah seperti
Dalam bahasa Arab
1. Risalah al-Tauhid
2. Sullam al-Hija Syarah Safinah al-Naja
3. Nahdlah al-Zainiah
4. At Tuhfah al-Amfenaniyah
5. Al Fawakih al-Nahdliyah
6. Mi’raj al-Shibyan ila Sama’i Ilm al-Bayan
7. Al-Nafahat ‘ala al-Taqrirah al-Saniyah
8. Nail al-Anfal
9. Hizib Nahdlatul Wathan
10. Hizib Nahdlatul Banat
11. Tariqat Hizib Nahdlatul Wathan
12. Shalawat Nahdlatain
13. Shalawat Nahdlatul Wathan
14. Shalawat Miftah Bab Rahmah Allah
15. Shalawat al-Mab’uts Rahmah li al-‘Alamin
Dalam bahasa Indonesia dan Sasak
1. Batu Ngompal
2. Anak Nunggal
3. Taqrirat Batu Ngompal
4. Wasiat Renungan Masa I dan II
Beliau turut mengarang bait-bait nasyid antaranya seperti
1. Ta’sis NWDI
2. Imamuna al-Syafi’i
3. Ya Fata Sasak
4. Ahlan bi Wafid al-Zairin
5. Tanawwar
6. Mars Nahdlatul Wathan
7. Bersatulah Haluan
8. Nahdlatain
9. Pacu Gama’

kelahiran beberapa tokoh ulama besar di Alam Melayu

Wilayah Bima terletak di bahagian timur Pulau Sumbawa. Pulau Sumbawa dalam lipatan sejarah terkenal dengan kelahiran beberapa tokoh ulama besar di Alam Melayu. Antaranya ialah seperti Syeikh Zainuddin bin Muhammad Badawi. Syeikh Zainuddin terkenal dengan karyanya dalam bidang tauhid yang bernama Sirajul Huda. Kitab ini adalah salah satu daripada tiga kitab tauhid yang sangat masyhur di telaah di pondok-pondok. Dua lagi kitab kitab tauhid yang ditelaah ialah Faridatul Faraid dan ad-Durr as-Tsamin. Berbalik kepada kerajaan Bima, pemerintah yang menerajui kerajaan ini rata-ratanya alim dan berpegang teguh kepada ajaran agama. Bahkan mereka juga sangat tegas dan tidak memberi muka kepada kolonialis Portugis dan Belanda yang pada satu ketika berusaha hendak menguasai keseluruhan kepulauan Alam Melayu. .

Di antara pemerintah Bima yang dikenang orang sebagai seorang yang alim dalam bidang agama dan kuat menyebarkan dakwah ialah seperti

1. Sultan Abdul Kahir

Baginda lahir pada tahun 1601 dan wafat pada tahun 1640 (8 Ramadhan 1050 H). Baginda bersama-sama dengan dua orang gurunya iaitu Datuk Di Tiro dan Datuk Di Bandang menyebarluaskan pengaruh Islam di seluruh pelusuk Kesultanan Bima (halaman 64). Penghormatan dan taat-setianya baginda kepada kedua orang gurunya menjadi ikutan rakyat yang sangat menghormati guru malah bercita-cita hendak menjadi guru (halaman 66). Setelah berhasil menyebarkan dakwah, pehatian kemudiannya dialihkan kepada bidang dan politik dan pemerintahan mengikut syariat Islam. Ulama memainkan peranan yang sangat besar dalam kedua-dua bidang ini (halaman 68)

2. Sultan Abil Khair Sirajuddin

Baginda adalah putera kepada Sultan Abdul Kahir. Baginda lahir pada tahun 1627 (Ramadhan 1038 H) dan wafat pada 22 Julai 1682 (17 Rajab 1093 H). Pemerintahan baginda disokong oleh beberapa orang ulama seperti Datuk Raja Lelo, Datuk Iskandar, Datuk Selang Kota, Datuk Panjang dan Datuk Lela (halaman 71). Penulis buku ini mengibaratkan pemerintahannya seperti pemerintahan Sultan Salahuddin al-Ayubi yang terkenal dalam sejarah Islam atas kejayaannya membangkitkan semangat jihad melawan tentera Tartar dan Salib. Sultan Abil Khair pula berhasil menjadikan Bima sebagai pusat Islam di Indonesia Timur selepas Makassar sekaligus menggagalkan usaha Portugis dan Belanda mengusai Bima (halaman 72). Ketika berjuang di Jawa, Sultan Abil Khair telah berkenalan dengan ulama besa pada waktu itu iaitu Syeikh Umar al-Bantami. Syeikh Umar kemudiannya membantu Sultan Abil Khair menguruskan pemerintahan Bima dan berjuang bersama-sama baginda melawan Belanda (halaman 75).

3. Sultan Nuruddin Abu Bakar Ali Syah

Baginda adalah putera kepada Sultan Abil Khair. Baginda lahir pada 5 Disember 1651 (29 Zulhijjah 1061 H) dan wafat pada 22 Julai 1687 (15 Ramadhan 1099 H). Syeikh Umar al-Bantami meneruskan usaha menegakkan hukum Islam dengan membantunya mentadbir kerajaan. Pada masa pemerintahannya, Bima dikunjungi oleh ramai alim-ulama dari Arab, Melaka, Sumatera, Banten dan Sulawesi Selatan (halaman 99).

4. Sultan Hasanuddin

Baginda adalah putera kepada Sultan Jamaluddin dan cucu kepada Sultan Nuruddin. Baginda lahir pada 7 September 1698 (22 Zulhijjah 1100 H) dan wafat pada 23 Januari 1731 (14 Rajab 1145 H). Baginda sangat menekankan aktiviti dakwah dan gigih melawan Belanda. Baginda telah mengislamkan daerah Dou Donggo Ipa dengan cara menerapkan dakwah melalui kebudayaan (halaman 108)

5. Sultan Muhammad Salahuddin

Baginda dilahirkan pada tahun 1888 (15 Zulhijjah 1306 H) dan wafat pada 11 Jun 1951 (7 Syawal 1370 H). Baginda digelar Ma Kakidi Agama kerana baginda menjunjung tinggi agama serta sangat alim dalam bidang agama (halaman 157). Baginda dikatakan alim dalam bidang fiqh dan qiraat (halaman 159). Sultan Muhammad Salahuddin dikatakan ada mengarang sebuah kitab yang berjudul Nurul Mubin yang pernah dicetak sebanyak dua kali, kali terakhir pada tahun 1942 (halaman 159). Baginda sangat cintakan ilmu pengetahuan dan alim-ulama. Baginda sendiri menanggung perbelanjaan penuntut ilmu yang ingin mendalami ilmu di Makkah. Begitu juga dengan pelajar yang ingin melanjutkan pelajaran di Mesir, Madinah dan Baghdad, semuanya diikurniakan biasiswa (halaman 161). Baginda berusaha keras mendirikan masjid-masjid dan sekolah agama di setiap wilayah (halaman 162).

Kemangkatan Sultan Muhammad Salahuddin menandakan bahawa Kesultanan Bima yang berusia 322 tahun juga turut berakhir setelah Indonesia mengalami perubahan sistem politik dan pemerintahan (halaman 215). Apapun seperti kata penulis buku ini,

Modal utama yang paling menentukan kemajuan Kesultanan Bima adalah kecintaannya kepada agama sehingga akan tumbuh demokrasi sejati serta keuletan dan keberanian dalam membangun negara. Faktor inilah yang menyebabkan sultan-sultan bersama seluruh rakyatnya bangkit untuk melawan kezaliman dan menegakkan kebenaran Kesultanan Bima yang tercinta
 
Powered by Blogger